"Ah, sudahlah. Ini sudah terlalu lama. Aku akan menjemputnya sekarang." kata lelaki kecil brewokan sambil berdiri dari tempatnya duduk di sudut ruangan.
"Mbah, tolong lihat dimana posisi dia saat ini,?"lanjutnya.
"Kau bawalah alat ini saja, Man. Karena dia selalu berpindah dengan cepat. " jawab lelaki tambun yang dipanggil Mbah.
Lelaki brewok tadi mengambil sebuah alat berlayar seukuran korek zippo. "Hmmm... baru nih. Oke, terimakasih" kata Si Brewok.
Tanpa memandang beberapa lelaki lain yang ada di ruangan tersebut, Si Brewok keluar ruangan. Dia mengambil FN P90 dan 2 magazine dari rak dinding. Kemudian dia naiki Penigale 1199R dan memakai helm. "Buka pintu" katanya dari balik helm. Tiba tiba pintu selebar 2.5 meter di depannya terbuka ke bawah menjadi semacam jalan seluncuran. Dan tanpa menunggu pintu tersebut terbuka sepenuhnya, Si Brewok langsung tarik gas dan meluncur. Tak dirasakannya gaya tarik trailer yang melaju ke depan saat dia keluar dari kontainernya.
===
Lelalki brewok itu terus saja menggeber motornya ke arah utara. Tak berapa lama, di belakangnya terlihat dua motor yang sama mencoba mengikutinya.
"Berapa orang,?" tanya lelaki brewok, rupanya kepada pengendara di belakangnya melalui microphone yang tertanam di helm nya.
"Kami berempat, Paman" jawab salah seorang pengendara.
"Kalian berempat, putari daerah Kayu Tangan, setelah itu belok kanan di Rajabally ke arah tugu. Setelah tiba, hujani tembakan ke arah penyerang Chikung." kata lelaki brewok yang dipanggil Paman memberikan instruksi.
Tidak berapa lama, di alun alun, Paman mengambil arah kanan menuju belakang balaikota, dan kedua motor lainnya mengambil arah kiri sesuai instruksi Paman.
Dari belakang balaikota, Paman melihat pertempuran Chikung melawan seorang lelaki jangkung. Pertempuran semakin memanas, tapi menurut Paman, tidak akan membahayakan Chikung.
Sampai tiba tiba, dari tempatnya berdiri, Paman melihat bahwa seorang lelaki berambut klimis di belakang si Jangkung menjentikan sesuatu kearah Chikung dan mengenai lutut kanannya, sehingga kedudukan Chikung sedikit goyah yang menyebabkan pukulan lelaki jangkung lawannya mengenai dadanya. DEBB,!!!
"Curang.. dia menggunakan senjata rahasia" Paman membatin.
"Paman, kami sudah tiba di depan Ahmad Yani, dan siap melakukan tembakan.." tiba tiba dari speaker di telinga Paman terdengar laporan.
"Kalian tunggu disana sebanter, sampai kusuruh"jawab Paman.
"Tandya" jawab suara pelapor tadi.
Dari tempatnya berdiri, dia melihat Chikung mulai bersiap dan kedua orang di belakang si Jangkung memasang kuda kuda. "Ah, sial. Itu Pandan Geni.."kata Paman dalam hati.
"Kalian berempat, maju dan tembak lawan Chikung sekarang. Cepat,!!!" setengah berteriak, Paman memberikan instruksi dari microphone nya.
Tanpa berancang ancang, Paman melompat ke atas motornya dan mulai menggeber motornya, tak berapa lama terdengar suara rentetan tembakan dari arah barat sesaat sebelum kedua orang musuh Chikung melepaskan pukulannya.
"Kung, kearah selatan sekarang,!!!" Paman berteriak ke arah Chikung saat musuh musuhnya teralihkan perhatiannya oleh suara tembakan. "Naik Kung" lanjut Paman tanpa mengurangi laju kendaraanya.
Mereka pun melaju dengan kencang ke arah selatan. Tak berapa lama, motor mereka masuk ke kontainer dimana Paman tadi keluar. Chikung dan Paman masuk ke ruangan, disambut oleh Mbah dan beberapa lelaki lain.
"Hahaha...masih hidup kau, Kung" kata lelaki tambun dengan rambut berantakan.
"Cuk, Jib" Chikung membalas. "Hampir saja aku selesai terkena Ajian Pandan Geni" lanjut Chikung.
"Pandan Geni,? Benarkah itu, Kung,?" tiba tiba Mbah menyela.
"Benar, Mbah. Walaupun aku melihat dari kejauhan, tapi aku yakin itu adalah Ajian Pandan Geni" Paman yang menjawab pertanyaan Mbah.
"Pandan Geni ... Pandan Geni... hmmm... Ilmu itu muncul lagi. Ontran ontran apalagi yang menanti di depan.." Mbah bergumam. "Siapa yang membawa Pandan Geni itu,?" Tanya Mbah.
"Yang Mulia Menjangan Diyu dan Yang Mulia Lembu Kuning," jawab Chikung.
BRAKK,!!! Tiba tiba lelaki tambun berambut berantakan menggebrak meja.
"Sudah kuduga. Jancuk,!!!" makinya.
Paman: Selesai
Ditulis oleh GoNdoel pdad 25 September 2018
Tentang Sebuah Nama Blog ini adalah sebuah wadah untuk mengumpulkan semua hal yang ada dan pernah ada bersama Ndengezz!!!. Sebenarnya dahulu sekali sudah pernah ada blog tentang Ndengezz!!!, namun karena pengelola yang lama tidak bisa mengakses masuk, sehingga perlu ada blog baru. Sebagian isi blog ini adalah posting ulang semua yang ada di blog lama, kecuali bagian yang menceritakan kehidupan pribadi pengelola blog lama. Sebagian lain isi blog ini adalah baru.....
Tuesday, 25 September 2018
Punggawa #3
Selanjutnya, saya akan memberanikan diri untuk memperkenalkan: Rajib.
Bernama lengkap: Doni Subiyanto, berbadan tambun dengan tinggi sekira 165 cm. Diantara semua punggawa, dia memiliki wajah paling bersih. Saat ini dia sudah menikah dan sudah dikaruniai seorang anak laki-laki. Doni juga adalah salah satu punggawa dari 4 akhir yang bukan alumni SMA Negri 4 Malang.
Sebagai Punggawa, Doni berjuluk Rajib. Raja Iblis.
Dia salah satu punggawa (selain Gondoel) yang menjadikan minum minuman keras sebagai profesi, bukan cuma pelarian. Doni juga adalah "penampung" Ndengezz!!! paling ikhlas. Bagaimana tidak, sebagai anak kos, karena dia asli Probolinggo, Doni rela kos nya dijadikan base camp Ndengezz!!!.
Tidak satupun barang miliknya yang aman dari jarahan. Baju, celana, cincin, makanan, apa saja.
Sebulan sekali, pada masa itu, Doni selalu pulang ke Probolinggo. Saat kembali ke Malang, Gondoel dan Tencrem selalu sudah menunggunya di kamar kos nya. Kangen,? Nanti dulu. Mereka berdua menunggu Doni karena setiap kembali dari Probolinggo, Doni selalu membawa Nasi dengan lauk hasil laut yang sangat banyak.
Doni juga merupakan Punggawa yang paling setia kawan.
Ditulis oleh GoNdoel pada 25 September 2018
Bernama lengkap: Doni Subiyanto, berbadan tambun dengan tinggi sekira 165 cm. Diantara semua punggawa, dia memiliki wajah paling bersih. Saat ini dia sudah menikah dan sudah dikaruniai seorang anak laki-laki. Doni juga adalah salah satu punggawa dari 4 akhir yang bukan alumni SMA Negri 4 Malang.
Sebagai Punggawa, Doni berjuluk Rajib. Raja Iblis.
Dia salah satu punggawa (selain Gondoel) yang menjadikan minum minuman keras sebagai profesi, bukan cuma pelarian. Doni juga adalah "penampung" Ndengezz!!! paling ikhlas. Bagaimana tidak, sebagai anak kos, karena dia asli Probolinggo, Doni rela kos nya dijadikan base camp Ndengezz!!!.
Tidak satupun barang miliknya yang aman dari jarahan. Baju, celana, cincin, makanan, apa saja.
Sebulan sekali, pada masa itu, Doni selalu pulang ke Probolinggo. Saat kembali ke Malang, Gondoel dan Tencrem selalu sudah menunggunya di kamar kos nya. Kangen,? Nanti dulu. Mereka berdua menunggu Doni karena setiap kembali dari Probolinggo, Doni selalu membawa Nasi dengan lauk hasil laut yang sangat banyak.
Doni juga merupakan Punggawa yang paling setia kawan.
Ditulis oleh GoNdoel pada 25 September 2018
Thursday, 20 September 2018
Tidak
Apakah mungkin seorang lelaki tampak begitu layak dicintai;
ketika dia berada dalam titik ketergantungannya, titik terapuhnya,?
Tentang engkau yang mengelus kepalaku dengan lembut,
saat aku lelap di pangkuanmu.
Atau saat engkau mengecup tanganku, sesaat setelah kita solat.
Dan saat engkau mendekapku di dadamu,
saat engkau duduk di pangkuanku.
Semua hanyalah konfirmasi cintamu padaku.
Memang sudah seharusnya begitu.
Tapi apakah mungkin aku masih layak engkau cintai;
saat aku berada dalam titik terendahku; seperti saat ini,?
Tidak..
Ditulis oleh GoNdoel pada 16 Maret 2016, di Mugi Griya
ketika dia berada dalam titik ketergantungannya, titik terapuhnya,?
Tentang engkau yang mengelus kepalaku dengan lembut,
saat aku lelap di pangkuanmu.
Atau saat engkau mengecup tanganku, sesaat setelah kita solat.
Dan saat engkau mendekapku di dadamu,
saat engkau duduk di pangkuanku.
Semua hanyalah konfirmasi cintamu padaku.
Memang sudah seharusnya begitu.
Tapi apakah mungkin aku masih layak engkau cintai;
saat aku berada dalam titik terendahku; seperti saat ini,?
Tidak..
Ditulis oleh GoNdoel pada 16 Maret 2016, di Mugi Griya
Wednesday, 19 September 2018
Sumpah
Kulihat engkau beku di tempatmu berdiri, tatapanmu nanar bergoyang goyang. Kuyakin engkau tak menyesali sumpah yang baru saja kau ucapkan. Tapi engkau merasa seperti ada yang keluar dari perkiraan. Engkau merasakan angin dingin meringkusmu dengan cara paling menyakitkan.
Apakah yang engkau rasakan kini, wahai lelaki yang tak pernah menunjukkan punggungmu pada musuh musuh mu,?
Apakah engkau sedang berusaha menelan kemarahanmu,?
Kemarahan yang tertuju pada dirimu sendiri. Karena sumpahmu telah merenggut dia yang kau cinta darimu; atau karena sumpahmu mempertaruhkan dia yang kau cinta,? Apa yang kau rasakan wahai lelaki yang selalu membidik kearah keabadian,? Bukankah kini terlihat muram wajahmu,? Sedihkah engkau dengan sumpahmu,?
Kesedihan tergurat jelas di wajahmu, seperti gagak yang tersesat diantara kumpulan bangau. Tapi engkau menolak untuk mengakuinya. Kau bilang engkau terlalu sibuk mengenang hal hal yang kau lewati bersama dia yang kau cinta. Engkau terllau sibuk, sehingga tidak ada waktu buat bersedih.
Untuk sesaat engkau tak sanggup bereaksi apa apa; sembari menahan derita bathin yang bertalu talu; sebuah perlawanan kulihat di matamu. Engkau menolak setiap kesedihan dan kepedihan.
Wahai lelaki yang memiliki hati penuh kasih, kenapa tidak kau lepaskan semua kepedihanmu,? Biarkan dentuman dahsyat di dadamu mereda. Bukankah engkau lelaki..
Engkau meyakini bahwa ini semua tak akan berakhir. Dan engkau yakin untuk menghadapi semua ini..
Sendiri
Ditulis oleh GoNdoel pada 10 Maret 2016, di Mugi Griya
Apakah yang engkau rasakan kini, wahai lelaki yang tak pernah menunjukkan punggungmu pada musuh musuh mu,?
Apakah engkau sedang berusaha menelan kemarahanmu,?
Kemarahan yang tertuju pada dirimu sendiri. Karena sumpahmu telah merenggut dia yang kau cinta darimu; atau karena sumpahmu mempertaruhkan dia yang kau cinta,? Apa yang kau rasakan wahai lelaki yang selalu membidik kearah keabadian,? Bukankah kini terlihat muram wajahmu,? Sedihkah engkau dengan sumpahmu,?
Kesedihan tergurat jelas di wajahmu, seperti gagak yang tersesat diantara kumpulan bangau. Tapi engkau menolak untuk mengakuinya. Kau bilang engkau terlalu sibuk mengenang hal hal yang kau lewati bersama dia yang kau cinta. Engkau terllau sibuk, sehingga tidak ada waktu buat bersedih.
Untuk sesaat engkau tak sanggup bereaksi apa apa; sembari menahan derita bathin yang bertalu talu; sebuah perlawanan kulihat di matamu. Engkau menolak setiap kesedihan dan kepedihan.
Wahai lelaki yang memiliki hati penuh kasih, kenapa tidak kau lepaskan semua kepedihanmu,? Biarkan dentuman dahsyat di dadamu mereda. Bukankah engkau lelaki..
Engkau meyakini bahwa ini semua tak akan berakhir. Dan engkau yakin untuk menghadapi semua ini..
Sendiri
Ditulis oleh GoNdoel pada 10 Maret 2016, di Mugi Griya
Monday, 17 September 2018
Pagi
Apakah aku mematahkan kaki-kaki keseimbangan,?
Telahkah aku meruntuhkan naungan peneduh,?
Seperti halnya benda benda langit yang terbakar saat mendekati bumi.
Aku memilih duduk di belakang jendela..
Dengan pandangan ke arah cakrawala
Semua rasa sakit yang pernah diciptakan Allah, sepertinya telah kucecap.
Seperti kutukan, aku harus menanggulanginya..
Seolah kulihat gagak - gagak yang mengendus kematianku, kematian jiwaku.
Haaah...
Seharusnya ini pagi yang sempurna..dengan matahari yang bersinar anggun..
Apakah aku akan benar benar sampai disana,?
Aku hanya harus percaya dan tetap percaya, kepada Sang Perencana, Sang Penghitung.
Sisa pagi masih cemerlang,
suara burung berharmoni dengan angin malu malu.
Pandanganku tetap sayu, ke arah cakrawala masih..
Dan aku tetap duduk di belakang jendela.
Ditulis oleh GoNdoel pada 28 Maret 2016, di Mugi Griya
Telahkah aku meruntuhkan naungan peneduh,?
Seperti halnya benda benda langit yang terbakar saat mendekati bumi.
Aku memilih duduk di belakang jendela..
Dengan pandangan ke arah cakrawala
Semua rasa sakit yang pernah diciptakan Allah, sepertinya telah kucecap.
Seperti kutukan, aku harus menanggulanginya..
Seolah kulihat gagak - gagak yang mengendus kematianku, kematian jiwaku.
Haaah...
Seharusnya ini pagi yang sempurna..dengan matahari yang bersinar anggun..
Apakah aku akan benar benar sampai disana,?
Aku hanya harus percaya dan tetap percaya, kepada Sang Perencana, Sang Penghitung.
Sisa pagi masih cemerlang,
suara burung berharmoni dengan angin malu malu.
Pandanganku tetap sayu, ke arah cakrawala masih..
Dan aku tetap duduk di belakang jendela.
Ditulis oleh GoNdoel pada 28 Maret 2016, di Mugi Griya
Punggawa #2
Orang kedua yang akan saya perkenalkan adalah Remex.
Lahir dengan nama Luqman Arief (tau deh pake "q" atau "k"). Merupakan punggawa paling tua. Lahir di tahun 1982 bulan Agustus.
Bertinggi badan 165 cm (kurang lebih). Sampai saat tulisan ini ditulis, dia belum menikah.
Anak kedua dari 4 bersaudara.
Nama "Remek" ditabalkan pada fisiknya saat SMA dan kuliah yang seperti tulang berbalut kulit dan kentut. Sangat kurus.
Tapi, dibalik tubuh sangat kurus itu, Remek adalah punggawa yang sangat tidak tahu diri. Kenapa,? karena dia salah satu punggawa yang paling senang berkelahi.
Mulai dari sesama siswa dari sekolah lain, tukang jualan tahu di stadion, keamanan acara kampus, becak berhenti (iya, becaknya bukan tukang becaknya) sampai bis gunung harta pernah diajak berkelahi.
Dan yang paling sering diajak menemani dia berkelahi adalah Ega dan Gondoel. Tapi mereka berdua hanya mau menemani saat tahu musuhnya adalah manusia. Bukan becak ataupun bis gunung harta.
Saat SMA, Remek adalah salah satu orang yang tidak bersekolah di SMA 4 Malang seperti kebanyakan punggawa dan pendamping punggawa.
Dan Remek adalah Punggawa 4 Akhir.
Mulai ditulis oleh GoNdoel pada 18 September 2018
Lahir dengan nama Luqman Arief (tau deh pake "q" atau "k"). Merupakan punggawa paling tua. Lahir di tahun 1982 bulan Agustus.
Bertinggi badan 165 cm (kurang lebih). Sampai saat tulisan ini ditulis, dia belum menikah.
Anak kedua dari 4 bersaudara.
Nama "Remek" ditabalkan pada fisiknya saat SMA dan kuliah yang seperti tulang berbalut kulit dan kentut. Sangat kurus.
Tapi, dibalik tubuh sangat kurus itu, Remek adalah punggawa yang sangat tidak tahu diri. Kenapa,? karena dia salah satu punggawa yang paling senang berkelahi.
Mulai dari sesama siswa dari sekolah lain, tukang jualan tahu di stadion, keamanan acara kampus, becak berhenti (iya, becaknya bukan tukang becaknya) sampai bis gunung harta pernah diajak berkelahi.
Dan yang paling sering diajak menemani dia berkelahi adalah Ega dan Gondoel. Tapi mereka berdua hanya mau menemani saat tahu musuhnya adalah manusia. Bukan becak ataupun bis gunung harta.
Saat SMA, Remek adalah salah satu orang yang tidak bersekolah di SMA 4 Malang seperti kebanyakan punggawa dan pendamping punggawa.
Dan Remek adalah Punggawa 4 Akhir.
Mulai ditulis oleh GoNdoel pada 18 September 2018
Chikung The Beggar
Dari arah utara, terlihat bayangan hitam berkelebat diatas atap Kodim 0833 Kota Malang, kemudian bayangan itu berbelok tajam ke kiri dan bersembunyi di dalam rimbun pohon trembesi depan SMA 4 Malang.
Tidak sampai tiga tarikan nafas, terlihat 3 bayangan lain menyusul dari arah utara juga. Tapi ketiga bayangan itu tiba tiba berhenti di ujung atap Kodim. Seperti kehilangan jejak. Celingukan mereka mencari cari. Dan tiba tiba... "Syuuut.. syuut... syuuut..."
"Ancuk,!! Ketahuan", dari balik rimbun daun trembesi, bayangan yang tadi bersembunyi melompat keluar dan bersiap lari lagi.
"Percuma kau lari lagi, Kung. Pasti akan terkejar. menyerahlah" kata salah seorang diantara tiga bayangan diatas atap Kodim.
Lelaki yang bersembunyi di pohon trembesi tadi, melakukan lompatan ringan menuju taman tugu kota malang. "Baiklah, bangsat bangsat. Kemarilah. Kita adu apa yang kita miliki,!!!" teriaknya menantang.
Disinari lampu taman, terlihat jelas sosok lelaki itu. Dengan tinggi sekira 160 an centimeter, rambut yang tegak berdiri walaupun tanpa gel, dan berat badan ideal, dia terlihat sangar dengan sikapnya yang menantang.
Tap..tap..tap. Ketiga orang yang tadi berdiri diatas atap kodim sudah berada di depan lelaki tadi. Dan si Jangkung mulai menyapa, "Pendekar Chikung.. hahahahaha.. Akhirnya kita bertemu juga. Biarkan aku bersopan santun dahulu. Namaku Tikta Maruta.." sebelum lelaki jangkung menyelesaikan kalimatnya, Chikung mendesis "cuih... sinelir"
Sedikit mengernyit raut muka Tikta Maruta, tapi sejenak kemudian, "Hahahahahaha... benar sekali, Pendekar Chikung. saya seorang sinelir. Tapi tahukah kau siapa kedua orang disebelahku ini,?"
Tak bergeming Chikung, tetap menatap Tikta Maruta dengan kewaspadaan tinggi.
"Hmmmphh... baiklah, akan kuperkenalkan mereka sebelum kau harus mati," kata Tikta Maruta.
Kemudian lanjutnya, "Yang Mulia Lembu Kuning" Tikta mengangguk ke arah kanan dimana berdiri lelaki berkepala plontos, dengan perawakan kurus dan memiliki tinggi yang sama dengan Chikung. "Dan, Yang Mulia Menjangan Diyu", Tikta mengangguk kearah kiri dimana berdiri lelaki pendek gempal berambut klimis.
"Sungkem ndalem sewu kepada Yang Mulia berdua..." dengan sedikit terkejut, Chikung menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan menyapa kedua orang di kanan kiri Tikta.
"Hmmm... kuterima sungkem mu, Pendekar Chikung", kata Diyu.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Bukan bermaksud lancang, tapi urusan ini ada diluar kekuasaan Yang Mulia berdua. Sudilah kiranya, Yang Mulia bergeser sedikit agar hamba bisa menyelesaikan urusan hamba dengan Sinelir hina ini.." kata Chikung mencoba mengusir kedua orang tadi.
"JAGA MULUTMU, BANGSAT,!!" tiba tiba Tikta berteriak dan melancarkan pukulan tepat ke arah muka Chikung.
Praakk,! Tanpa kehilangan kewaspadaan, Chikung dengan mudah menangkis pukulan itu. Walaupun begitu, mereka berdua harus mundur dua langkah akibat daya tolak keduanya.
"Hei, apa yang terjadi dengan ketenanganmu tadi, Tikta,?" kata Chikung.
"Bangsat,. Jangan pernah kau ucapkan kata tadi dari mulutmu yang penuh tai itu,!!!" menahan geram, Tikta mulai memasang kuda kuda lagi.
Dan dengan gerakan yang terlihat tanpa ancang ancang, Tikta meluncur ke depan dan melepaskan pukulan tepat ke arah ulu hati Chikung. Tapi, Chikung bukan pendekar yang mudah dijatuhkan, dengan gerakan luwes dan wajar, dia bisa menghindar hanya sesaat sebelum tendangan Tikta masuk.
Adu pukulan dan tendangan diantara kedua pendekar berlangsung selama sehisapan rokok. Tanpa ada satupun yang bisa mengenai lawan dengan telak.
Namun tiba tiba, DEBBB,!!!!
Pukulan Tikta masuk mengenai dada Chikung. Menyebabkan Chikung mundur dua tindak dan terbatuk batuk.
"Sialan..." Tikta lah yang justru memaki pelan. Dan tanpa mempedulikan Chikung yang sudah bersiap dengan kuda kuda, Tikta berbalik menghadap kepada Menjangan Diyu dan berkata, "Mohon maaf Yang Mulia, mohon ijinkan hamba selesaikan pertarungan ini sendiri.."
"Tutup mulutmu, Tikta. Sudah terlalu lama kita disinj dan kau belum juga bisa merobohkan cecunguk itu."kata Diyu. Kemudian, Diyu menoleh ke arah Lembu Kuning, "Mari kita selesaikan, Kakang.."
"Hmmm..." Lembu Kuning hanya menggeram,.
"Minggirlah kau, Tikta. Jangan salahkan kami jika kau ikut tersambar dan mati.."lanjut Diyu.
Kemudian, Diyu dan Kuning memasang kuda kuda. Lalu tangan kanan Diyu menempel pada tangan kiri Kuning, dengan sikap badan semakin turun hampir berjongkok.
"Asu... mati aku. Ilmu lama itu muncul lagi, Pandan Geni" berdesis Chikung menyaksikan sikap kedua Diyu dan Kuning,.
Lalu, Chikung pun mulai pasrah, tapi tetap bersikap gagah dengan menghimpun semua kekuatannya di dada., Dia menunggu, karena tahu, tidak ada yang bisa dilakukan untuk melawan Ajian Pandan geni selain menunggu....atau mengalihkan perhatian Diyu dan Kuning.
"HAHAHA, ayolah lakukan Yang Mulia Berdua... Saya siap.." sedikit mengejek Chikung berteriak.
Terlihat gerakan perlahan dari kedua tangan Diyu dan Kuning yang terangkap, "inilah saatnya..."bisik Chikung untuk dirinya sendiri.
"HAAAAAAAAAA......" Diyu dan Kuning berteriak bersama bersiap untuk melepaskan pukulan Pandan Geni, tapi tiba tiba .... dredetedetdetdetdet,!!!
Terdengar suara tembakan senjata api dari arah barat mereka berempat. Kemudian, terdengar teriakan "Kung, ke arah selatan sekarang,!!!"dan suara tembakan berlanjut menghujani Diyu, Kuning dan Tikta. Chikung seketika melompat kearah selatan, melompat pagar taman dan berdiri di depan Balai Kota Malang, tak berapa lama tibalah seseorang mengendarai Panigale 1199R hitam. Terdengar teriakan dari balik helm, "Naik, Kung!!!", tanpa motor berhenti sama sekali Chikung sudah melompat membonceng. Dan motor langsung mengebut belok kiri dari balai kota menuju arah alun alun.
Sementara itu, penembakan masih terjadi di dalam taman tugu. Ketiga orang yang menjadi sasaran, Diyu, Kuning dan Tikta berkelebatan menghindari peluru dan mencoba mendekat ke arah penembak yang kini bertambah satu, menjadi dua orang.
Tidak ingin celaka dan membuang waktu, para penembak melompat sejauh tujuh meter ke belakang sambil tetap memuntahkan peluru dari FN P90 mereka. Di balik pagar taman telah menunggu kawan mereka diatas dua motor Panigale 1199R. Mereka melompat dan melesat pergi ke arah barat menuju Rajabally.
"Hancuk,!!!" maki Tikta. "Kita tidak akan bisa mengejarnya." lanjutnya.
"Hmmm... ini kesialan. Kita salah perhitungan. Baiklah, mari kita kembali."kata Diyu.
"Baik Yang Mulia.." kata Tikta pasrah.
Ketiganya melompat kembali dan berkelebat ke arah utara menuju arah datang mereka tadi.
====
Sementara itu Chikung tetap meluncur diboncengan Panigale ke arah selatan kota Malang dengan kecepatan tinggi. Sesaat setelah melewati gapura Kebonagung, Panigale mulai melambat, tapi tidak berhenti. Dari arah pertigaan Mulyorejo, keluar trailer hitam berjalan lambat di depan Panigale. Pintu belakang kontainer di trailer tersebut membuka kearah bawah, membuat Panigale mudah untuk naik dan masuk. Chikung dan pemboncengnya membuka pintu partisi setelah memarkir panigale. Di ruangan dalam, telah duduk 6 orang laki laki menunggu mereka.
"Hahaha... Masih hidup kau, kung.." kata lelaki tambun dengan rambut berantakan.
"Cuk, Jib" maki Chikung membalas.
Chikung The Beggar: Selesai.
Mulai ditulis oleh GoNdoel pada 14 September 2018 dan diselesaikan pada 17 September 2018
Tidak sampai tiga tarikan nafas, terlihat 3 bayangan lain menyusul dari arah utara juga. Tapi ketiga bayangan itu tiba tiba berhenti di ujung atap Kodim. Seperti kehilangan jejak. Celingukan mereka mencari cari. Dan tiba tiba... "Syuuut.. syuut... syuuut..."
"Ancuk,!! Ketahuan", dari balik rimbun daun trembesi, bayangan yang tadi bersembunyi melompat keluar dan bersiap lari lagi.
"Percuma kau lari lagi, Kung. Pasti akan terkejar. menyerahlah" kata salah seorang diantara tiga bayangan diatas atap Kodim.
Lelaki yang bersembunyi di pohon trembesi tadi, melakukan lompatan ringan menuju taman tugu kota malang. "Baiklah, bangsat bangsat. Kemarilah. Kita adu apa yang kita miliki,!!!" teriaknya menantang.
Disinari lampu taman, terlihat jelas sosok lelaki itu. Dengan tinggi sekira 160 an centimeter, rambut yang tegak berdiri walaupun tanpa gel, dan berat badan ideal, dia terlihat sangar dengan sikapnya yang menantang.
Tap..tap..tap. Ketiga orang yang tadi berdiri diatas atap kodim sudah berada di depan lelaki tadi. Dan si Jangkung mulai menyapa, "Pendekar Chikung.. hahahahaha.. Akhirnya kita bertemu juga. Biarkan aku bersopan santun dahulu. Namaku Tikta Maruta.." sebelum lelaki jangkung menyelesaikan kalimatnya, Chikung mendesis "cuih... sinelir"
Sedikit mengernyit raut muka Tikta Maruta, tapi sejenak kemudian, "Hahahahahaha... benar sekali, Pendekar Chikung. saya seorang sinelir. Tapi tahukah kau siapa kedua orang disebelahku ini,?"
Tak bergeming Chikung, tetap menatap Tikta Maruta dengan kewaspadaan tinggi.
"Hmmmphh... baiklah, akan kuperkenalkan mereka sebelum kau harus mati," kata Tikta Maruta.
Kemudian lanjutnya, "Yang Mulia Lembu Kuning" Tikta mengangguk ke arah kanan dimana berdiri lelaki berkepala plontos, dengan perawakan kurus dan memiliki tinggi yang sama dengan Chikung. "Dan, Yang Mulia Menjangan Diyu", Tikta mengangguk kearah kiri dimana berdiri lelaki pendek gempal berambut klimis.
"Sungkem ndalem sewu kepada Yang Mulia berdua..." dengan sedikit terkejut, Chikung menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan menyapa kedua orang di kanan kiri Tikta.
"Hmmm... kuterima sungkem mu, Pendekar Chikung", kata Diyu.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Bukan bermaksud lancang, tapi urusan ini ada diluar kekuasaan Yang Mulia berdua. Sudilah kiranya, Yang Mulia bergeser sedikit agar hamba bisa menyelesaikan urusan hamba dengan Sinelir hina ini.." kata Chikung mencoba mengusir kedua orang tadi.
"JAGA MULUTMU, BANGSAT,!!" tiba tiba Tikta berteriak dan melancarkan pukulan tepat ke arah muka Chikung.
Praakk,! Tanpa kehilangan kewaspadaan, Chikung dengan mudah menangkis pukulan itu. Walaupun begitu, mereka berdua harus mundur dua langkah akibat daya tolak keduanya.
"Hei, apa yang terjadi dengan ketenanganmu tadi, Tikta,?" kata Chikung.
"Bangsat,. Jangan pernah kau ucapkan kata tadi dari mulutmu yang penuh tai itu,!!!" menahan geram, Tikta mulai memasang kuda kuda lagi.
Dan dengan gerakan yang terlihat tanpa ancang ancang, Tikta meluncur ke depan dan melepaskan pukulan tepat ke arah ulu hati Chikung. Tapi, Chikung bukan pendekar yang mudah dijatuhkan, dengan gerakan luwes dan wajar, dia bisa menghindar hanya sesaat sebelum tendangan Tikta masuk.
Adu pukulan dan tendangan diantara kedua pendekar berlangsung selama sehisapan rokok. Tanpa ada satupun yang bisa mengenai lawan dengan telak.
Namun tiba tiba, DEBBB,!!!!
Pukulan Tikta masuk mengenai dada Chikung. Menyebabkan Chikung mundur dua tindak dan terbatuk batuk.
"Sialan..." Tikta lah yang justru memaki pelan. Dan tanpa mempedulikan Chikung yang sudah bersiap dengan kuda kuda, Tikta berbalik menghadap kepada Menjangan Diyu dan berkata, "Mohon maaf Yang Mulia, mohon ijinkan hamba selesaikan pertarungan ini sendiri.."
"Tutup mulutmu, Tikta. Sudah terlalu lama kita disinj dan kau belum juga bisa merobohkan cecunguk itu."kata Diyu. Kemudian, Diyu menoleh ke arah Lembu Kuning, "Mari kita selesaikan, Kakang.."
"Hmmm..." Lembu Kuning hanya menggeram,.
"Minggirlah kau, Tikta. Jangan salahkan kami jika kau ikut tersambar dan mati.."lanjut Diyu.
Kemudian, Diyu dan Kuning memasang kuda kuda. Lalu tangan kanan Diyu menempel pada tangan kiri Kuning, dengan sikap badan semakin turun hampir berjongkok.
"Asu... mati aku. Ilmu lama itu muncul lagi, Pandan Geni" berdesis Chikung menyaksikan sikap kedua Diyu dan Kuning,.
Lalu, Chikung pun mulai pasrah, tapi tetap bersikap gagah dengan menghimpun semua kekuatannya di dada., Dia menunggu, karena tahu, tidak ada yang bisa dilakukan untuk melawan Ajian Pandan geni selain menunggu....atau mengalihkan perhatian Diyu dan Kuning.
"HAHAHA, ayolah lakukan Yang Mulia Berdua... Saya siap.." sedikit mengejek Chikung berteriak.
Terlihat gerakan perlahan dari kedua tangan Diyu dan Kuning yang terangkap, "inilah saatnya..."bisik Chikung untuk dirinya sendiri.
"HAAAAAAAAAA......" Diyu dan Kuning berteriak bersama bersiap untuk melepaskan pukulan Pandan Geni, tapi tiba tiba .... dredetedetdetdetdet,!!!
Terdengar suara tembakan senjata api dari arah barat mereka berempat. Kemudian, terdengar teriakan "Kung, ke arah selatan sekarang,!!!"dan suara tembakan berlanjut menghujani Diyu, Kuning dan Tikta. Chikung seketika melompat kearah selatan, melompat pagar taman dan berdiri di depan Balai Kota Malang, tak berapa lama tibalah seseorang mengendarai Panigale 1199R hitam. Terdengar teriakan dari balik helm, "Naik, Kung!!!", tanpa motor berhenti sama sekali Chikung sudah melompat membonceng. Dan motor langsung mengebut belok kiri dari balai kota menuju arah alun alun.
Sementara itu, penembakan masih terjadi di dalam taman tugu. Ketiga orang yang menjadi sasaran, Diyu, Kuning dan Tikta berkelebatan menghindari peluru dan mencoba mendekat ke arah penembak yang kini bertambah satu, menjadi dua orang.
Tidak ingin celaka dan membuang waktu, para penembak melompat sejauh tujuh meter ke belakang sambil tetap memuntahkan peluru dari FN P90 mereka. Di balik pagar taman telah menunggu kawan mereka diatas dua motor Panigale 1199R. Mereka melompat dan melesat pergi ke arah barat menuju Rajabally.
"Hancuk,!!!" maki Tikta. "Kita tidak akan bisa mengejarnya." lanjutnya.
"Hmmm... ini kesialan. Kita salah perhitungan. Baiklah, mari kita kembali."kata Diyu.
"Baik Yang Mulia.." kata Tikta pasrah.
Ketiganya melompat kembali dan berkelebat ke arah utara menuju arah datang mereka tadi.
====
Sementara itu Chikung tetap meluncur diboncengan Panigale ke arah selatan kota Malang dengan kecepatan tinggi. Sesaat setelah melewati gapura Kebonagung, Panigale mulai melambat, tapi tidak berhenti. Dari arah pertigaan Mulyorejo, keluar trailer hitam berjalan lambat di depan Panigale. Pintu belakang kontainer di trailer tersebut membuka kearah bawah, membuat Panigale mudah untuk naik dan masuk. Chikung dan pemboncengnya membuka pintu partisi setelah memarkir panigale. Di ruangan dalam, telah duduk 6 orang laki laki menunggu mereka.
"Hahaha... Masih hidup kau, kung.." kata lelaki tambun dengan rambut berantakan.
"Cuk, Jib" maki Chikung membalas.
Chikung The Beggar: Selesai.
Mulai ditulis oleh GoNdoel pada 14 September 2018 dan diselesaikan pada 17 September 2018
Thursday, 13 September 2018
Masih
Angin menjelajah, membunyikan lonceng lonceng kecil di pucuk pucuk ranting pohon trembesi. Di permukaan danau, angin itu meninggalkan jejak jejak yang menggelombang, riak bening pada cermin air.
Disisi lain, angin membuat lingkaran lingkaran di permukaan pasir, membumbung untuk kemudian menyerakkannya.
Terus, kuikuti lankah angin..
Disatu tempat, diantara ilalang tinggi yang mengering, kulihat dia bermain main, bergemerisik membuat ilalang seperti menari. Di savana luas, dia mempermainkan angin dari arah lain.
Atau dipermainkan.
Kubiarkan mereka bermain main.
Kuarahkan pandanganku ke arah lembah, seakan sebuah wajah memandangku. Wajahnya seperti pemindahan bulan, pandangan yang memberi ketenangan.
Aku duduk disana, merengkuh setiap panorama. Sungai yang berkelok keperakan, berkelindan dengan pepohonan.
Aku yang masih membidik ke arah keabadian.
Ditulis oleh GoNdoel pada 4 Maret 2016, di Mugi Griya
Disisi lain, angin membuat lingkaran lingkaran di permukaan pasir, membumbung untuk kemudian menyerakkannya.
Terus, kuikuti lankah angin..
Disatu tempat, diantara ilalang tinggi yang mengering, kulihat dia bermain main, bergemerisik membuat ilalang seperti menari. Di savana luas, dia mempermainkan angin dari arah lain.
Atau dipermainkan.
Kubiarkan mereka bermain main.
Kuarahkan pandanganku ke arah lembah, seakan sebuah wajah memandangku. Wajahnya seperti pemindahan bulan, pandangan yang memberi ketenangan.
Aku duduk disana, merengkuh setiap panorama. Sungai yang berkelok keperakan, berkelindan dengan pepohonan.
Aku yang masih membidik ke arah keabadian.
Ditulis oleh GoNdoel pada 4 Maret 2016, di Mugi Griya
Punggawa #1
Arnaz The Chikung
Saya akan mulai memperkenalkan satu per satu Punggawa Ndengezz!!! dan beberapa Pendukung Punggawa.
Saya akan acak dalam memperkenalkan, tidak terikat abjad nama, tahun lahir, ataupun peran di Ndengezz!!!
Orang pertama yang saya ambil adalah: Arnaz The Chikung.
Dia lahir di tahun 1983, Januari. Anak kedua dari 3 bersaudara, pancuran kapit sendang. Saat ini, dia sudah beristri dan memiliki 2 orang anak.
Oke, mari kita bahas dari sisi Ndengezz!!!. Dia adalah salah satu dari 4 awal. Memiliki postur paling kecil diantara 4 awal.
Tidak banyak yang bisa diceritakan dari Chikung,. Selain gayanya jaman SMA yang klewas klewes, rambut jabriknya, mata yang jarang sekali terbuka lebar, tidak ada lagi yang bisa diceritakan dari Chikung.
Oiya, Chikung adalah nama panggilan. Ditabalkan dari sosok Chikung Sang Dewa Mabuk di serial silat televisi tahun 98'an..
Saat SMA dan kuliah, Chikung-Arnaz adalah salah satu pemabuk profesional di Ndengezz!!!
Saat SMA, Chikung fokus dalam belajar, dan tidak punya waktu untuk berpacaran. (Oke, kalimat terakhir yang kalian baca, seharusnya berbunyi seperti ini: Selama SMA, Chikung ditolak sebanyak 19 kali dari 17 kali penembakan).
Bagaimanapun juga, Chikung adalah satu-satunya yang paling setia kawan diantara 4 awal. Entahlah, mungkin saat itu dia "fokus belajar dan ndak mau pacaran"..
Itu dulu tentang Chikung...
Mulai ditulis oleh GoNdoel pada 13 September 2018
Saya akan mulai memperkenalkan satu per satu Punggawa Ndengezz!!! dan beberapa Pendukung Punggawa.
Saya akan acak dalam memperkenalkan, tidak terikat abjad nama, tahun lahir, ataupun peran di Ndengezz!!!
Orang pertama yang saya ambil adalah: Arnaz The Chikung.
Dia lahir di tahun 1983, Januari. Anak kedua dari 3 bersaudara, pancuran kapit sendang. Saat ini, dia sudah beristri dan memiliki 2 orang anak.
Oke, mari kita bahas dari sisi Ndengezz!!!. Dia adalah salah satu dari 4 awal. Memiliki postur paling kecil diantara 4 awal.
Tidak banyak yang bisa diceritakan dari Chikung,. Selain gayanya jaman SMA yang klewas klewes, rambut jabriknya, mata yang jarang sekali terbuka lebar, tidak ada lagi yang bisa diceritakan dari Chikung.
Oiya, Chikung adalah nama panggilan. Ditabalkan dari sosok Chikung Sang Dewa Mabuk di serial silat televisi tahun 98'an..
Saat SMA dan kuliah, Chikung-Arnaz adalah salah satu pemabuk profesional di Ndengezz!!!
Saat SMA, Chikung fokus dalam belajar, dan tidak punya waktu untuk berpacaran. (Oke, kalimat terakhir yang kalian baca, seharusnya berbunyi seperti ini: Selama SMA, Chikung ditolak sebanyak 19 kali dari 17 kali penembakan).
Bagaimanapun juga, Chikung adalah satu-satunya yang paling setia kawan diantara 4 awal. Entahlah, mungkin saat itu dia "fokus belajar dan ndak mau pacaran"..
Itu dulu tentang Chikung...
Mulai ditulis oleh GoNdoel pada 13 September 2018
Dari Seorang Sahabat
Terkadang...
Sejenak kita perlu menenangkan jiwa, mendamaikan hati;
mengistirahatkan kalbu, meresapi tiupan angin... dan diam.
Semoga beberapa hari ini engkau tercerahkan;
oleh kebisuan..
Justru dalam diam itu, ada Karomah Sang Maha dari segala Maha..
..untuk jiwa jiwa yang istiqomah
Benar...
Ada sebuah penyadaran diri di dalam sebuah perenungan panjang
Saat setitik embun yang merasa kokoh berpijak pada daun; jatuh ke tanah kering, terserap musnah..
Terimakasih, saudaraku, untuk selalu bersamaku.
Bahkan dalam saat tergelapku, pada titik nadirku, aku masih bisa tertawa.
Dogma itu terpatri sangat kuat..
Mungkin sang ikan akan merasa dia yang salah tempat, walaupun semua orang melihatnya ada di dalam takdir yang tepat.
Tapi paling tidak, aku masih bisa bersulng dalam kebisuan bersamamu:
sahabatku ...
Ditulis oleh GoNdoel pada 18 Maret 2016 di Mugi Griya
Sejenak kita perlu menenangkan jiwa, mendamaikan hati;
mengistirahatkan kalbu, meresapi tiupan angin... dan diam.
Semoga beberapa hari ini engkau tercerahkan;
oleh kebisuan..
Justru dalam diam itu, ada Karomah Sang Maha dari segala Maha..
..untuk jiwa jiwa yang istiqomah
Benar...
Ada sebuah penyadaran diri di dalam sebuah perenungan panjang
Saat setitik embun yang merasa kokoh berpijak pada daun; jatuh ke tanah kering, terserap musnah..
Terimakasih, saudaraku, untuk selalu bersamaku.
Bahkan dalam saat tergelapku, pada titik nadirku, aku masih bisa tertawa.
Dogma itu terpatri sangat kuat..
Mungkin sang ikan akan merasa dia yang salah tempat, walaupun semua orang melihatnya ada di dalam takdir yang tepat.
Tapi paling tidak, aku masih bisa bersulng dalam kebisuan bersamamu:
sahabatku ...
Ditulis oleh GoNdoel pada 18 Maret 2016 di Mugi Griya
Monday, 10 September 2018
Cantik
Sosoknya sederhana, tapi memiliki keanggunan ningrat;
bukan kesederhanaan yang lugu.
Ia memiliki kekuatan dari fisiknya yang rapuh.
Kamu akan mendebat pandanganmu sendiri saat menatapnya.
Melawan setiap yang kau tangkap dengan indera penglihatanmu sendiri..
Ia memiliki kecantikan yang tak terbantah;
tapi juga tak terjelaskan.
Kecantikan yang menentramkan; dan sekaligus menakutkan.
Kamu boleh memalingkan pandanganmu darinya;
tapi tak akan berhasil kabur dari sosoknya.
Ketika akhirnya citranya lenyap, kamu akan lari sekencangnya.
Kamu bahkan tak peduli:
apakah kamu menjauhinya, atau mengejarnya.
Ditulis oleh GoNdoel pada 14 Maret 2006 dan diselesaikan pada 15 Maret 2006, di Mugi griya
bukan kesederhanaan yang lugu.
Ia memiliki kekuatan dari fisiknya yang rapuh.
Kamu akan mendebat pandanganmu sendiri saat menatapnya.
Melawan setiap yang kau tangkap dengan indera penglihatanmu sendiri..
Ia memiliki kecantikan yang tak terbantah;
tapi juga tak terjelaskan.
Kecantikan yang menentramkan; dan sekaligus menakutkan.
Kamu boleh memalingkan pandanganmu darinya;
tapi tak akan berhasil kabur dari sosoknya.
Ketika akhirnya citranya lenyap, kamu akan lari sekencangnya.
Kamu bahkan tak peduli:
apakah kamu menjauhinya, atau mengejarnya.
Ditulis oleh GoNdoel pada 14 Maret 2006 dan diselesaikan pada 15 Maret 2006, di Mugi griya
Kertas Hitam
Sudah lama, aku meninggalkanmu, sayang
Seperti sampah yang terbuang.
Mungkin ak terlena selama ini sayang, sehingga sedetikpun ak ga ada waktu buat menengokmu.
Hufff.....
Banyak cerita, berita, dan kisah yang ga aku
ceritakan ke kamu. Membuat hatimu begitu kaku dan dingin, terhadapku.
Ayolah, semuanya terjadi diluar alam sadarku...ak bingung, ak khilaf, ak terbius..
Dengan semua kelaknatan ini, dan karena Khia Ih berjalan terlalu hebat.
Terima kedatanganku dengan kecemberutan manismu sayang
Karena, kertas hitam ini, adalah selembar wasiat dariku kelak.
(Sore, dimana kicau burung terdengar bahagia;hitam)
Ditulis oleh Gambleh pada 15 Juli 2009, Tanpa Label, Sebuah Posting terakhir di blog lama
Seperti sampah yang terbuang.
Mungkin ak terlena selama ini sayang, sehingga sedetikpun ak ga ada waktu buat menengokmu.
Hufff.....
Banyak cerita, berita, dan kisah yang ga aku
ceritakan ke kamu. Membuat hatimu begitu kaku dan dingin, terhadapku.
Ayolah, semuanya terjadi diluar alam sadarku...ak bingung, ak khilaf, ak terbius..
Dengan semua kelaknatan ini, dan karena Khia Ih berjalan terlalu hebat.
Terima kedatanganku dengan kecemberutan manismu sayang
Karena, kertas hitam ini, adalah selembar wasiat dariku kelak.
(Sore, dimana kicau burung terdengar bahagia;hitam)
Ditulis oleh Gambleh pada 15 Juli 2009, Tanpa Label, Sebuah Posting terakhir di blog lama
Pewaris
Pewarisku
Tiap hembus nafasku, pasti kau amini dengan kebanggaan
Tiap kedipan mataku pasti kau doakan dengan ikhlas
Tiap cercaanku pasti kau telan dengan kesabaran
Tiap rengekanku pasti kau pegang dengan penuh kelembutan
Aku mengerti,
Kisah 10 tahun ini akan menjadi kristal yang akan mengantarku masuk kedalam liang kubur
Dan setiap kau datang mendoakanku, seolah kau mengerti
Bergetarnya bahumu,,,!!!!
Akan bergetar seiring bergetarnya irama kisah dari papan sunyiku.
Pewarisku,
Aku setia padamu, aku memelukmu, aku menangisimu, aku membanggakanmu,,,
Sampai nanti, kelak, kita akan kehabisan cerita, dan...
Pewaris kita akan memulai kisah-kisah baru.....
Ditulis oleh GoNdoel pada 6 Juli 2008, di Palimanan, Tanpa Label
AdalaH,....
Waktu yang bergerak beriringan helaan takdir,...
bersama ratu yang kehilangan jati diri;
sebab rahib memanjatkan doa memohon restu pada Onime,...
embun yang berada di ujung ranting rapuh'pun lebih kokoh berpijak darinya,...
walaupun nanti, suatu saat, dia akan terserap musnah di hamparan kelam tanah kering,...
sebab itu,
kami Sang Punggawa akan mengakarkan pijak pada Sesuatu Yang Agung,.
Ditulis oleh GoNdoel pada 14 November 2008, Tanpa Label
bersama ratu yang kehilangan jati diri;
sebab rahib memanjatkan doa memohon restu pada Onime,...
embun yang berada di ujung ranting rapuh'pun lebih kokoh berpijak darinya,...
walaupun nanti, suatu saat, dia akan terserap musnah di hamparan kelam tanah kering,...
sebab itu,
kami Sang Punggawa akan mengakarkan pijak pada Sesuatu Yang Agung,.
Ditulis oleh GoNdoel pada 14 November 2008, Tanpa Label
Sang Penjaga
Pergi, dan pergi selayaknya ksatria perang
yang akan selalu menunjukkan punggungnya, selama dia berjalan...
tanpa tangis, tanpa air mata, tanpa isak, dan tanpa rengekan
demi sesuatu bintang yang kelak akan menjadi penempa pedang sutramu
jangan khawatir!!
aku akan menjaga semua saudara2 darahmu..
pergilah dengan gagah, dan kebanggaan,,,
dan pulanglah dengan tebasan2 perkasamu...
Ditulis oleh Gambleh pada 16 November 2008, Tanpa Label, Didedikasikan untuk GoNdoel...
yang akan selalu menunjukkan punggungnya, selama dia berjalan...
tanpa tangis, tanpa air mata, tanpa isak, dan tanpa rengekan
demi sesuatu bintang yang kelak akan menjadi penempa pedang sutramu
jangan khawatir!!
aku akan menjaga semua saudara2 darahmu..
pergilah dengan gagah, dan kebanggaan,,,
dan pulanglah dengan tebasan2 perkasamu...
Ditulis oleh Gambleh pada 16 November 2008, Tanpa Label, Didedikasikan untuk GoNdoel...
Waktu Itu
sepertinya, sudah aku lepas..
rasa penat yang terlalu, biarlah berlalu.
sementara didepan telah menunggu
banyak kuntum yang mengeras
satu, dua, aku menyobeknya,
tiap helai masa lalu.
hai waktu, bukankah kita pernah bersama?
engkau sang penyeimbang, antara datang dan pergi
kalau saja, aku dulu menangis,,
pasti air mataku tergenang darahmu
kalau saja, aku dulu berlari...
pasti debunya mengkristalkan batin
kalau saja, aku dulu merengek...
pasti suaranya menyayat hatimu
bahwa cinta,cipta, dan cita,,,,
hanyalah sebuah warna
ga lebih...
Ditulis oleh Gambleh pada 5 Januari 2008, Tanpa Label
Ditulis oleh Gambleh pada 5 Januari 2008, Tanpa Label
Tenangkan Semua
tulisan itu sudah buram,
menjadi saksi betapa begundalnya kita
memegang semua kebahagiaan
dan merusak semua kebiadaban
tulisan itu sudah hitam
menyatu dengan dasar yang kelam
kawan, ingatkanku yang terlalu
dan naif kita memandang semuanya.
satu, persatu, hilang dan menghilang
dimana semua kata2 itu?
yang dengan gagahnya pernah kau teriakkan?
"karena kita adalah satu...."
toh, yang ada cuma tinggal cerita
cerita, bahwa kita pernah bersama
cerita, bahwa kita pernah punya kebanggaan
cerita, bahwa kita sekarang adalah cerita yang berserakan
Ditulis oleh Gambleh pada 5 Januari 2008, Tanpa Label
Semua Ada Pada Air
ada suatu filosofi sederhana. cobalah, didalam kolam yang tenang, lemparkan sebuah batu kecil.kecil saja, ga usah besar2. dan lihatlah, setelah batu masuk ke air, perhatikan gelombangnya yang mengarah berbentuk lingkaran kesegala arah. termasuk kearah kita tentunya. Dari percobaan kecil itu, kita bisa beranggapan, bahwasanya kehidupan pasti memiliki hukum timbal balik. sekecil apapun kita melakukan sesuatu, pasti hal itu akan memberikan akibat ke kita.
Walaupun, ketika kita melakukan sesuatu yang bertujuan untuk orang lain, pasti tanpa disadari atau ga, hal itu akan berakibat sesuatu kepada kita. cepat atau lambat, kita sadari atau ga, baik atau buruk, kita suka atau ga.
contohnya, ketika kita menyakiti sesorang, dan walaupun orang orang itu pasrah dengan apa yang kita lakukan, tapi suatu saat akan memberikan efek kepada kita.
kadang kita berfikir, mungkin kesimpulan inilah yang mendasari hukum karma pada agama hindu begitu melegendaris. dan semoga, setelah kita memahami ini semua, kita tak akan lagi segan untuk berbuat baik kepada lainnya.karena semua yang kita lakukan ga akan sia2.amien...
Ditulis oleh Gambleh pada 5 Januari 2008, Tanpa Label
Lelaki
Lelaki itu mulai menyadari, ada sebuah rencana besar yang sedang berjalan, dan dia tidak ingin berada diluar lingkaran. Dia juga menyadari bahwa Allah mengawal rencana-Nya dengan rahasia-rahasia. Cukuplah aku bersabar dan percaya, katanya.
Apa yang kalian rasakan saat bintang terhempas tanpa terjatuh,? Terdengarkah juga olehmu, tangisan sengsara yang memantul di lembah-lembah,? Menyayat dalam keputus asaan yang kronis. Bagaimana rasa batinmu ketika pedang pedang para pejuang tak lagi berkelebatan,?
Memamerkan penghayatan kepasrahan total, lelaki itu menundukan badannya juga kepalanya, tapi tidak hatinya.
Lelaki diawal usia tigapuluhan itu memiliki jiwa seurakan belalang. Hatinya penuh kasih, tapi sikapnya kadang sekeras baja. Kehidupannya keras tapi sangat menyenangkan. Penuh tantangan, tapi membahagiakan. Kisahnya diceritakan dari mulut, tak tergores oleh tinta. Mengembara jauh meninggalkan pemilik kisah. Pandangannya lurus ke depan, membidik tepat ke arah keabadian. Tak tergoyah seakan seribu malaikat menjadi perisai. Sehingga tidak ada pedang yang terhunus, gada yang terayun, panah yang melesat, maupun lembing yang terlontar yang bisa membuat bidikannya pada keabadian mampu teralihkan.
Walaupun pada satu titik, lelaki itu merasakan ada yang merosot pada ketetapan hatinya.
Tapi ada kekuatan lain yang menyuruhnya tidak berhenti disitu. Lelaki itu menghela nafas panjang...
Ditulis oleh GoNdoel pada 8 Maret 2016 di Mugi Griya
Apa yang kalian rasakan saat bintang terhempas tanpa terjatuh,? Terdengarkah juga olehmu, tangisan sengsara yang memantul di lembah-lembah,? Menyayat dalam keputus asaan yang kronis. Bagaimana rasa batinmu ketika pedang pedang para pejuang tak lagi berkelebatan,?
Memamerkan penghayatan kepasrahan total, lelaki itu menundukan badannya juga kepalanya, tapi tidak hatinya.
Lelaki diawal usia tigapuluhan itu memiliki jiwa seurakan belalang. Hatinya penuh kasih, tapi sikapnya kadang sekeras baja. Kehidupannya keras tapi sangat menyenangkan. Penuh tantangan, tapi membahagiakan. Kisahnya diceritakan dari mulut, tak tergores oleh tinta. Mengembara jauh meninggalkan pemilik kisah. Pandangannya lurus ke depan, membidik tepat ke arah keabadian. Tak tergoyah seakan seribu malaikat menjadi perisai. Sehingga tidak ada pedang yang terhunus, gada yang terayun, panah yang melesat, maupun lembing yang terlontar yang bisa membuat bidikannya pada keabadian mampu teralihkan.
Walaupun pada satu titik, lelaki itu merasakan ada yang merosot pada ketetapan hatinya.
Tapi ada kekuatan lain yang menyuruhnya tidak berhenti disitu. Lelaki itu menghela nafas panjang...
Ditulis oleh GoNdoel pada 8 Maret 2016 di Mugi Griya
Sunday, 9 September 2018
Yang Terbijak
Ibu,,,,,
Bukankah kerutan diwajah cantik itu semakin jelas?
Ribuan waktu kau terus meminangku
Tanpa lelah, tanpa eluh, tanpa tergoyang rintangan
Semua kau tantang dengan berani dan terhormat
Membuktikan bahwa kecintaanmu tiada duanya
Dan ketika aku termangu, dalam tanya yang dalam,
Kerutan itu semakin jelas memanggilku
Untuk terus larut dalam kebahagiaan yang tak terperikan
Ampuni aku ibu
Begundalnya sebuah kehidupan ini
Tak mungkin membuatku melupakanmu
Dan bahwa ibu adalah malaikat hidupku,
Tiada tanding, tiada banding
Dan ketika keadaan sesuai kehendak telah tiba,
Aku tetap akan menghormatimu, selamanya.
( dedicated 4 my mom, selamat hari ibu, :) )
Ditulis oleh Gambleh pada 9 Januari 2008, Tanpa Label
Angin Barat
waktu itu aku tertatih,
melihat datangnya angin yang sejuk berbuai
dan disetiap tetesan air yang terdengar, angin itu tetap menemaniku
tertawa, menangis, teriak, dan berontak
angin itu begitu putih,
semilirnya mengingatkanku akan kecantikan dewi surga
yang dengan tahzim dan kihmat, selalu bersujud sesuai dengan adaNya
hufff, angin barat, betapa pesonamu merenggut habis jiwa ini
kau buat kosong kerontang, dan kau isi dengan sejuknya senyummu
kenapa kau bakar habis semuanya? tanpa sisa? tanpa bekas?
aku terlalu lancang untuk mencoba menangkapmu
karena tangan ini tak mampu untuk melihat, apalagi menangkap hembusanmu
salam, sang angin barat, aku takjub padamu.
Ditulis oleh Gambleh pada 10 Januari 2008, Tanpa Label
melihat datangnya angin yang sejuk berbuai
dan disetiap tetesan air yang terdengar, angin itu tetap menemaniku
tertawa, menangis, teriak, dan berontak
angin itu begitu putih,
semilirnya mengingatkanku akan kecantikan dewi surga
yang dengan tahzim dan kihmat, selalu bersujud sesuai dengan adaNya
hufff, angin barat, betapa pesonamu merenggut habis jiwa ini
kau buat kosong kerontang, dan kau isi dengan sejuknya senyummu
kenapa kau bakar habis semuanya? tanpa sisa? tanpa bekas?
aku terlalu lancang untuk mencoba menangkapmu
karena tangan ini tak mampu untuk melihat, apalagi menangkap hembusanmu
salam, sang angin barat, aku takjub padamu.
Ditulis oleh Gambleh pada 10 Januari 2008, Tanpa Label
Sang Pewaris
Waktu yang mengalir,,
bersama rumput yang semakin tinggi,,
tetaplah membidik ke arah keabadianmu,teman,,
walaupun kaki tak lagi kuat menyangga kefanaan;
atau perahu tak mampu menolong;
atau mesti merangkak dan memanjat;atau jiwa membusuk,!!!!
biarkan pewaris-pewaris jiwamu lahir dalam akhir perjalanan;
bersama ayat-ayat kebahagiaan sang iblis....
yang membisikkan kedamaian restu ilahi
Wujudmu tak menakutkan;
seperti bintang malam yang bersemayam dalam lelap kelopak sang fajar...
Teman, kita adalah keabadian!!!
dalam mimbar penuh berkah;
dari kecupan kematian!!!
Teman, kita adalah....................
NDENGEZZ!!!
Ditulis oleh GoNdoel pada 21 Desember 2007, Tanpa Label
bersama rumput yang semakin tinggi,,
tetaplah membidik ke arah keabadianmu,teman,,
walaupun kaki tak lagi kuat menyangga kefanaan;
atau perahu tak mampu menolong;
atau mesti merangkak dan memanjat;atau jiwa membusuk,!!!!
biarkan pewaris-pewaris jiwamu lahir dalam akhir perjalanan;
bersama ayat-ayat kebahagiaan sang iblis....
yang membisikkan kedamaian restu ilahi
Wujudmu tak menakutkan;
seperti bintang malam yang bersemayam dalam lelap kelopak sang fajar...
Teman, kita adalah keabadian!!!
dalam mimbar penuh berkah;
dari kecupan kematian!!!
Teman, kita adalah....................
NDENGEZZ!!!
Ditulis oleh GoNdoel pada 21 Desember 2007, Tanpa Label
Lobak, Dan Rahasianya
dalam lobak itu,
kamu bisa menebak,
sebelum kamu membukanya.
dan melihat semua isinya.
tebaklah dengan logis,
seperti apa isinya??
apa warnanya>
adakah bijinya>??
karena sering aku berpikir.
bahwa Tuhan sang Perkasa bisa berbuat apa saja
bahkan bisa mengelabui kita..
dengan menaruh seekor burung didalam lobak/
karena kita hanya berpikir saat itu terjadi.
berpikir saat kita melihat.
dan tersenyum saat melihat jawabannya...
dan saat itulah Tuhan menggantinya..
mengganti isi lobak dengan apa yang kita lihat..
karena Tuhan Sang Perkasa...
Ditulis oleh Gambleh pada 14 Desember 2007, tanpa label
kamu bisa menebak,
sebelum kamu membukanya.
dan melihat semua isinya.
tebaklah dengan logis,
seperti apa isinya??
apa warnanya>
adakah bijinya>??
karena sering aku berpikir.
bahwa Tuhan sang Perkasa bisa berbuat apa saja
bahkan bisa mengelabui kita..
dengan menaruh seekor burung didalam lobak/
karena kita hanya berpikir saat itu terjadi.
berpikir saat kita melihat.
dan tersenyum saat melihat jawabannya...
dan saat itulah Tuhan menggantinya..
mengganti isi lobak dengan apa yang kita lihat..
karena Tuhan Sang Perkasa...
Ditulis oleh Gambleh pada 14 Desember 2007, tanpa label
Ta'zim
Aku bergerak lagi, selangkah ... selangkah
Seperti kayu tua yang melapuk, sempoyongan ...
Tersungkur aku, mengendus lantai biara ...
Aku merasa wajahku pucat, kusaksikan raja iblis tegak di hadapanku.
Aku berbisik ta'zim.
Kata kataku keluar patah - patah.. Emosional, penuh ketakutan, bahagia sekaligus setengah gila ..
"Yaa Allaah..."
Ditulis oleh GoNdoel di Mugi Griya pada 7 Maret 2016
Seperti kayu tua yang melapuk, sempoyongan ...
Tersungkur aku, mengendus lantai biara ...
Aku merasa wajahku pucat, kusaksikan raja iblis tegak di hadapanku.
Aku berbisik ta'zim.
Kata kataku keluar patah - patah.. Emosional, penuh ketakutan, bahagia sekaligus setengah gila ..
"Yaa Allaah..."
Ditulis oleh GoNdoel di Mugi Griya pada 7 Maret 2016
Ayah, Sosok Yang Hilang
kadang aku penuh rasa,
berlari dengan girang berteriak
dengan rona merah dipipiku..
menggegam es krim warna warni
kadang aku penuh duka
merintih dan menyesal hidup
menyanyi lagu kematian hidup
kadang aku termangu diam..
setetes air dari mata mengalir,
otakku terasa beku.
mulutku terkatup..
ketika melihat semua tiada.
kadang aku berdiri
diatas bukit tinggi di selatan'
bersarungkan pedang pusaka
dan berbalut jirah khas ksatria
kadang aku berteriak
merobek setiap mawar yang ada
dan meludahi semua kasih
merenggut semua perawan..
kadang aku tersenyum.'
penuh welas asih berjalan..
membuang semua harta demi tangis..
dan pada akhirnya aku bertanya,,
di mana aku lahir,,,
dimana ayahku,,
dimana sosok penerang hidupku,,'
apakah ayahku sedang bercengkrama>??
bersama Sang Khalik,,,menertawakanku,,,
dan Mikail ikut berbincang,,,
hingga nanti saatnya...
saat gelap dlm ruang sempit................
( Ketika aku ingat, Allah hanya mengijinkanku mengenal sosok Ayah sampai aku umur 3 tahun )
Ditulis oleh Gambleh pada
berlari dengan girang berteriak
dengan rona merah dipipiku..
menggegam es krim warna warni
kadang aku penuh duka
merintih dan menyesal hidup
menyanyi lagu kematian hidup
kadang aku termangu diam..
setetes air dari mata mengalir,
otakku terasa beku.
mulutku terkatup..
ketika melihat semua tiada.
kadang aku berdiri
diatas bukit tinggi di selatan'
bersarungkan pedang pusaka
dan berbalut jirah khas ksatria
kadang aku berteriak
merobek setiap mawar yang ada
dan meludahi semua kasih
merenggut semua perawan..
kadang aku tersenyum.'
penuh welas asih berjalan..
membuang semua harta demi tangis..
dan pada akhirnya aku bertanya,,
di mana aku lahir,,,
dimana ayahku,,
dimana sosok penerang hidupku,,'
apakah ayahku sedang bercengkrama>??
bersama Sang Khalik,,,menertawakanku,,,
dan Mikail ikut berbincang,,,
hingga nanti saatnya...
saat gelap dlm ruang sempit................
( Ketika aku ingat, Allah hanya mengijinkanku mengenal sosok Ayah sampai aku umur 3 tahun )
Ditulis oleh Gambleh pada
JUMAT, 14 DESEMBER 2007
Sang Perajam
sayap itu tak berwarna,,
tak berbau,,bahkan tak berasa...
dia bagai ksatria sieva
berhiaskan pedang, dan bernafaskan air mata
masa adalah kendaraan kebanggaannya
detik "Laa ila ha illAllah" adalah dimensinya
kecepatannya melebihi angin murka
kelihaiannya memelintir tetesan sebutir air...
kekuatannya merobohkan jiwa
gemeretak tangannya memilin semua awal
dan dia datang dengan sempurna...
timur, barat, utara, selatan...
semua adalah kekuasaannya
tiada satu ruang pun bisa menipunya..
tiada satu doa suci pun mampu merengkuhnya..
mengambil setiap nafas dengan kasar,,
satu persatu,,,,bayangkan!!!satu persatu!!!!!!
hingga kalbu ini pun serasa hancur...
setiap detik dari sekarang,,,
seperti menyusun jalan setapak demi setapak
menanti kedatangannya...
lalu,
dia akan berteriak,,
"akulah sang Malaikat Pencabut Nyawa!!"
Ditulis oleh Gambleh pada JUMAT, 14 DESEMBER 2007
dia bagai ksatria sieva
berhiaskan pedang, dan bernafaskan air mata
masa adalah kendaraan kebanggaannya
detik "Laa ila ha illAllah" adalah dimensinya
kecepatannya melebihi angin murka
kelihaiannya memelintir tetesan sebutir air...
kekuatannya merobohkan jiwa
gemeretak tangannya memilin semua awal
dan dia datang dengan sempurna...
timur, barat, utara, selatan...
semua adalah kekuasaannya
tiada satu ruang pun bisa menipunya..
tiada satu doa suci pun mampu merengkuhnya..
mengambil setiap nafas dengan kasar,,
satu persatu,,,,bayangkan!!!satu persatu!!!!!!
hingga kalbu ini pun serasa hancur...
setiap detik dari sekarang,,,
seperti menyusun jalan setapak demi setapak
menanti kedatangannya...
lalu,
dia akan berteriak,,
"akulah sang Malaikat Pencabut Nyawa!!"
Ditulis oleh Gambleh pada JUMAT, 14 DESEMBER 2007
Subscribe to:
Comments (Atom)