Monday, 17 September 2018

Chikung The Beggar

Dari arah utara, terlihat bayangan hitam berkelebat diatas atap Kodim 0833 Kota Malang, kemudian bayangan itu berbelok tajam ke kiri dan bersembunyi di dalam rimbun pohon trembesi depan SMA 4 Malang.
Tidak sampai tiga tarikan nafas, terlihat 3 bayangan lain menyusul dari arah utara juga. Tapi ketiga bayangan itu tiba tiba berhenti di ujung atap Kodim. Seperti kehilangan jejak. Celingukan mereka mencari cari. Dan tiba tiba... "Syuuut.. syuut... syuuut..."
"Ancuk,!! Ketahuan", dari balik rimbun daun trembesi, bayangan yang tadi bersembunyi melompat keluar dan bersiap lari lagi.
"Percuma kau lari lagi, Kung. Pasti akan terkejar. menyerahlah" kata salah seorang diantara tiga bayangan diatas atap Kodim.
Lelaki yang bersembunyi di pohon trembesi tadi, melakukan lompatan ringan menuju taman tugu kota malang. "Baiklah, bangsat bangsat. Kemarilah. Kita adu apa yang kita miliki,!!!" teriaknya menantang.
Disinari lampu taman, terlihat jelas sosok lelaki itu. Dengan tinggi sekira 160 an centimeter, rambut yang tegak berdiri walaupun tanpa gel, dan berat badan ideal, dia terlihat sangar dengan sikapnya yang menantang.
Tap..tap..tap. Ketiga orang yang tadi berdiri diatas atap kodim sudah berada di depan lelaki tadi. Dan si Jangkung mulai menyapa, "Pendekar Chikung.. hahahahaha.. Akhirnya kita bertemu juga. Biarkan aku bersopan santun dahulu. Namaku Tikta Maruta.." sebelum lelaki jangkung menyelesaikan kalimatnya, Chikung mendesis "cuih... sinelir"
Sedikit mengernyit raut muka Tikta Maruta, tapi sejenak kemudian, "Hahahahahaha... benar sekali, Pendekar Chikung. saya seorang sinelir. Tapi tahukah kau siapa kedua orang disebelahku ini,?"
Tak bergeming Chikung, tetap menatap Tikta Maruta dengan kewaspadaan tinggi.
"Hmmmphh... baiklah, akan kuperkenalkan mereka sebelum kau harus mati," kata Tikta Maruta.
Kemudian lanjutnya, "Yang Mulia Lembu Kuning" Tikta mengangguk ke arah kanan dimana berdiri lelaki berkepala plontos, dengan perawakan kurus dan memiliki tinggi yang sama dengan Chikung. "Dan, Yang Mulia Menjangan Diyu", Tikta mengangguk kearah kiri dimana berdiri lelaki pendek gempal berambut klimis.
"Sungkem ndalem sewu kepada Yang Mulia berdua..." dengan sedikit terkejut, Chikung menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan menyapa kedua orang di kanan kiri Tikta.
"Hmmm... kuterima sungkem mu, Pendekar Chikung", kata Diyu.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Bukan bermaksud lancang, tapi urusan ini ada diluar kekuasaan Yang Mulia berdua. Sudilah kiranya, Yang Mulia bergeser sedikit agar hamba bisa menyelesaikan urusan hamba dengan Sinelir hina ini.." kata Chikung mencoba mengusir kedua orang tadi.
"JAGA MULUTMU, BANGSAT,!!" tiba tiba Tikta berteriak dan melancarkan pukulan tepat ke arah muka Chikung.
Praakk,! Tanpa kehilangan kewaspadaan, Chikung dengan mudah menangkis pukulan itu. Walaupun begitu, mereka berdua harus mundur dua langkah akibat daya tolak keduanya.
"Hei, apa yang terjadi dengan ketenanganmu tadi, Tikta,?" kata Chikung.
"Bangsat,. Jangan pernah kau ucapkan kata tadi dari mulutmu yang penuh tai itu,!!!" menahan geram, Tikta mulai memasang kuda kuda lagi.
Dan dengan gerakan yang terlihat tanpa ancang ancang, Tikta meluncur ke depan dan melepaskan pukulan tepat ke arah ulu hati Chikung. Tapi, Chikung bukan pendekar yang mudah dijatuhkan, dengan gerakan luwes dan wajar, dia bisa menghindar hanya sesaat sebelum tendangan Tikta masuk.
Adu pukulan dan tendangan diantara kedua pendekar berlangsung selama sehisapan rokok. Tanpa ada satupun yang bisa mengenai lawan dengan telak.
Namun tiba tiba, DEBBB,!!!!
Pukulan Tikta masuk mengenai dada Chikung. Menyebabkan Chikung mundur dua tindak dan terbatuk batuk.
"Sialan..." Tikta lah yang justru memaki pelan. Dan tanpa mempedulikan Chikung yang sudah bersiap dengan kuda kuda, Tikta berbalik menghadap kepada Menjangan Diyu dan berkata, "Mohon maaf Yang Mulia, mohon ijinkan hamba selesaikan pertarungan ini sendiri.."
"Tutup mulutmu, Tikta. Sudah terlalu lama kita disinj dan kau belum juga bisa merobohkan cecunguk itu."kata Diyu. Kemudian, Diyu menoleh ke arah Lembu Kuning, "Mari kita selesaikan, Kakang.."
"Hmmm..." Lembu Kuning hanya menggeram,.
"Minggirlah kau, Tikta. Jangan salahkan kami jika kau ikut tersambar dan mati.."lanjut Diyu.
Kemudian, Diyu dan Kuning memasang kuda kuda. Lalu tangan kanan Diyu menempel pada tangan kiri Kuning, dengan sikap badan semakin turun hampir berjongkok.
"Asu... mati aku. Ilmu lama itu muncul lagi, Pandan Geni" berdesis Chikung menyaksikan sikap kedua Diyu dan Kuning,.
Lalu, Chikung pun mulai pasrah, tapi tetap bersikap gagah dengan menghimpun semua kekuatannya di dada., Dia menunggu, karena tahu, tidak ada yang bisa dilakukan untuk melawan Ajian Pandan geni selain menunggu....atau mengalihkan perhatian Diyu dan Kuning.
"HAHAHA, ayolah lakukan Yang Mulia Berdua... Saya siap.." sedikit mengejek Chikung berteriak.
Terlihat gerakan perlahan dari kedua tangan Diyu dan Kuning yang terangkap, "inilah saatnya..."bisik Chikung untuk dirinya sendiri.
"HAAAAAAAAAA......" Diyu dan Kuning berteriak bersama bersiap untuk melepaskan pukulan Pandan Geni, tapi tiba tiba .... dredetedetdetdetdet,!!!
Terdengar suara tembakan senjata api dari arah barat mereka berempat. Kemudian, terdengar teriakan "Kung, ke arah selatan sekarang,!!!"dan suara tembakan berlanjut menghujani Diyu, Kuning dan Tikta. Chikung seketika melompat kearah selatan, melompat pagar taman dan berdiri di depan Balai Kota Malang, tak berapa lama tibalah seseorang mengendarai Panigale 1199R hitam. Terdengar teriakan dari balik helm, "Naik, Kung!!!", tanpa motor berhenti sama sekali Chikung sudah melompat membonceng. Dan motor langsung mengebut belok kiri dari balai kota menuju arah alun alun.
Sementara itu, penembakan masih terjadi di dalam taman tugu. Ketiga orang yang menjadi sasaran, Diyu, Kuning dan Tikta berkelebatan menghindari peluru dan mencoba mendekat ke arah penembak yang kini bertambah satu, menjadi dua orang.
Tidak ingin celaka dan membuang waktu, para penembak melompat sejauh tujuh meter ke belakang sambil tetap memuntahkan peluru dari FN P90 mereka. Di balik pagar taman telah menunggu kawan mereka diatas dua motor Panigale 1199R. Mereka melompat dan melesat pergi ke arah barat menuju Rajabally.
"Hancuk,!!!" maki Tikta. "Kita tidak akan bisa mengejarnya." lanjutnya.
"Hmmm... ini kesialan. Kita salah perhitungan. Baiklah, mari kita kembali."kata Diyu.
"Baik Yang Mulia.." kata Tikta pasrah.
Ketiganya melompat kembali dan berkelebat ke arah utara menuju arah datang mereka tadi.
====
Sementara itu Chikung tetap meluncur diboncengan Panigale ke arah selatan kota Malang dengan kecepatan tinggi. Sesaat setelah melewati gapura Kebonagung, Panigale mulai melambat, tapi tidak berhenti. Dari arah pertigaan Mulyorejo, keluar trailer hitam berjalan lambat di depan Panigale. Pintu belakang kontainer di trailer tersebut membuka kearah bawah, membuat Panigale mudah untuk naik dan masuk. Chikung dan pemboncengnya membuka pintu partisi setelah memarkir panigale. Di ruangan dalam, telah duduk 6 orang laki laki menunggu mereka.
"Hahaha... Masih hidup kau, kung.." kata lelaki tambun dengan rambut berantakan.
"Cuk, Jib" maki Chikung membalas.
Chikung The Beggar: Selesai.

Mulai ditulis oleh GoNdoel  pada 14 September 2018 dan diselesaikan pada 17 September 2018

No comments:

Post a Comment