Kulihat engkau beku di tempatmu berdiri, tatapanmu nanar bergoyang goyang. Kuyakin engkau tak menyesali sumpah yang baru saja kau ucapkan. Tapi engkau merasa seperti ada yang keluar dari perkiraan. Engkau merasakan angin dingin meringkusmu dengan cara paling menyakitkan.
Apakah yang engkau rasakan kini, wahai lelaki yang tak pernah menunjukkan punggungmu pada musuh musuh mu,?
Apakah engkau sedang berusaha menelan kemarahanmu,?
Kemarahan yang tertuju pada dirimu sendiri. Karena sumpahmu telah merenggut dia yang kau cinta darimu; atau karena sumpahmu mempertaruhkan dia yang kau cinta,? Apa yang kau rasakan wahai lelaki yang selalu membidik kearah keabadian,? Bukankah kini terlihat muram wajahmu,? Sedihkah engkau dengan sumpahmu,?
Kesedihan tergurat jelas di wajahmu, seperti gagak yang tersesat diantara kumpulan bangau. Tapi engkau menolak untuk mengakuinya. Kau bilang engkau terlalu sibuk mengenang hal hal yang kau lewati bersama dia yang kau cinta. Engkau terllau sibuk, sehingga tidak ada waktu buat bersedih.
Untuk sesaat engkau tak sanggup bereaksi apa apa; sembari menahan derita bathin yang bertalu talu; sebuah perlawanan kulihat di matamu. Engkau menolak setiap kesedihan dan kepedihan.
Wahai lelaki yang memiliki hati penuh kasih, kenapa tidak kau lepaskan semua kepedihanmu,? Biarkan dentuman dahsyat di dadamu mereda. Bukankah engkau lelaki..
Engkau meyakini bahwa ini semua tak akan berakhir. Dan engkau yakin untuk menghadapi semua ini..
Sendiri
Ditulis oleh GoNdoel pada 10 Maret 2016, di Mugi Griya
No comments:
Post a Comment