Sunday, 9 September 2018

Angin Barat

waktu itu aku tertatih,
melihat datangnya angin yang sejuk berbuai
dan disetiap tetesan air yang terdengar, angin itu tetap menemaniku
tertawa, menangis, teriak, dan berontak

angin itu begitu putih,
semilirnya mengingatkanku akan kecantikan dewi surga
yang dengan tahzim dan kihmat, selalu bersujud sesuai dengan adaNya

hufff, angin barat, betapa pesonamu merenggut habis jiwa ini
kau buat kosong kerontang, dan kau isi dengan sejuknya senyummu
kenapa kau bakar habis semuanya? tanpa sisa? tanpa bekas?
aku terlalu lancang untuk mencoba menangkapmu
karena tangan ini tak mampu untuk melihat, apalagi menangkap hembusanmu
salam, sang angin barat, aku takjub padamu.

Ditulis oleh Gambleh pada 10 Januari 2008, Tanpa Label

No comments:

Post a Comment