Wednesday, 16 February 2022

Awal Semua Bermula

 


Awal Semua Bermula

 

“Tetaplah hidup, Anakku!”

Dengan sedikit sisa energi murni yang ada, lelaki muda berwajah tampan itu melempar Rangga. Dalam sepersekian detik, Poeranto melesat dari belakang si lelaki berwajah tampan. Ia mengejar dan mencoba menangkap bocah yang sedang melesat itu. Namun, usahanya gagal, Rangga meluncur sangat cepat di udara, melewati pagar beton setinggi tujuh meter.


Anak kecil itu kemudian terjun ke dalam jurang yang sangat gelap. Untuk kemudian diterima oleh derasnya arus sungai Brantas yang ada di bawah tebing, tempat rumahnya berdiri.


Poeranto merasa sangat geram dengan kegagalannya. Ia menggertakkan kedua rahangnya. Matanya menyipit dan memancarkan kemurkaan yang sangat dalam. Kedua tangannya mengepal, menahan diri untuk tidak menghancurkan pagar beton di depannya.


Ia berputar ke belakang, ke arah rumah Rangga berdiri. Dilihatnya lelaki yang tadi melempar Rangga masih tetap di tempatnya berlutut. Mata lelaki ini memancarkan rasa puas dan lega karena berhasil meloloskan Rangga.


Ia tidak tahu apakah Rangga, anaknya, bisa melewati derasnya sungai Brantas yang sedang meluap. Namun, setidaknya, dia tidak mati di tangan jahat sosok di hadapannya, Poeranto. Sosok yang selama ini dianggapnya sebagai guru. Sosok tua yang selalu penuh welas asih kepada keluarganya.


Sosok itu melihat dengan penuh murka kepada ayah Rangga. Di belakang ayah Rangga, mayat-mayat bergelimpangan, buah tangannya malam ini.


Perlahan, Poeranto bergerak menuju ayah Rangga.

“Kini, tibalah waktumu menyusul mereka. Bersiaplah!” kata sosok itu. Ia mengangkat telapak tangan kanannya ke sebelah telinganya. Dari telapak itu, tampak pendar berwarna kebiruan, tanda bahwa energi murni telah dialirkan ke sana.


“Tunggu sebentar. Sebelum pukulan Wojo itu mengenai kepalaku, tolong jelaskan satu hal. Kenapa engkau tega membunuh kami semua? Anak cucumu sendiri, Ayah?” tanya ayah Rangga. Tidak ada rasa gentar dalam kalimatnya, hanya penasaran kenapa Poeranto tega membasmi keluarganya sendiri.


“Kamu tidak akan pernah paham, Anakku,” desis Poeranto. Tanpa ragu, Poeranto meluncurkan telapak tangannya ke arah wajah ayah Rangga. Hasilnya, kepala itu hancur. Hanya menyisakan seonggok daging yang melekat di leher. Seperti belasan korban lain yang ada di belakang ayah Rangga.

Setelah memastikan semua penghuni rumah megah itu mati, Poeranto melesat pergi. Ia berniat mengejar Rangga ke arah sungai mengalir. Ia ingin membunuh satu-satunya keturunannya yang masih tersisa.


***


Sementara itu, setelah meluncur belasan meter ke arah sungai, tubuh Rangga disambut derasnya arus sungai Brantas. Hujan deras dari sore, membuat debit air sungai meningkat drastis. Begitu juga dengan alirannya, menjadi berkali lipat lebih deras.


Bocah berumur tujuh tahun itu sekuat tenaga mempertahankan posisi mulut dan hidungnya agar berada di atas permukaan air. Walaupun sering gagal dan banyak air masuk ke dalam mulutnya, tetapi sesekali ia masih sempat menghirup udara.


Rangga juga berusaha untuk menggapai pinggiran sungai. Alih-alih berhasil, ia selalu terpeleset saat mencoba meraih padas. Saat berhasil menggapai dahan pohon bambu yang menjuntai, hasilnya tetap sama saja. Malah tangannya jadi penuh luka karena tergores duri.


Pakaiannya sesekali tersangkut batang bamboo atau batang pohon lain. Namun hal itu tidak cukup kuat untuk memberikan kekuatan yang bisa menahannya dari terjangan arus. Malah, pakaiannya menjadi compang-camping, karena sobek tersangkut dahan.


Akhirnya, bocah itu pasrah mengikuti arus sungai. Kemana pun arus akan membawanya. Ia hanya berusaha untuk tetap bisa bernapas di tengah derasnya aliran sungai.


***


Kegagalan Rangga menggapai pinggiran sungai membawa berkah baginya. Sehebat apa pun ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Poeranto, ia tetap tidak bisa menyamai derasnya arus sungai. Poeranto tidak berhasil menemukan sedikit pun jejak Rangga di pinggiran sungai. Satu-satunya jejak yang berhasil didapatkan hanyalah sobekan kecil kain berdarah yang tersangkut ranting bambu.


Lelaki tua itu menghentikan pencariannya setelah lima kilometer. Ia berpikir bahwa, jika anak sekecil itu tidak bisa menggapai pinggiran sungai setelah sejauh ini, bisa dipastikan ia telah mati terseret arus.

Setelah menghela napas panjang, Poeranto melesat ke arah timur. Tujuannya satu, alas Purwo.

 

#30DWCJilid35

#Day1

#Squad5

#AwalMulaKejadian


No comments:

Post a Comment