Awal
Semua Bermula
“Tetaplah
hidup, Anakku!”
Dengan
sedikit sisa energi murni yang ada, lelaki muda berwajah tampan itu melempar
Rangga. Dalam sepersekian detik, Poeranto melesat dari belakang si lelaki
berwajah tampan. Ia mengejar dan mencoba menangkap bocah yang sedang melesat
itu. Namun, usahanya gagal, Rangga meluncur sangat cepat di udara, melewati
pagar beton setinggi tujuh meter.
Anak
kecil itu kemudian terjun ke dalam jurang yang sangat gelap. Untuk kemudian
diterima oleh derasnya arus sungai Brantas yang ada di bawah tebing, tempat
rumahnya berdiri.
Poeranto
merasa sangat geram dengan kegagalannya. Ia menggertakkan kedua rahangnya.
Matanya menyipit dan memancarkan kemurkaan yang sangat dalam. Kedua tangannya
mengepal, menahan diri untuk tidak menghancurkan pagar beton di depannya.
Ia
berputar ke belakang, ke arah rumah Rangga berdiri. Dilihatnya lelaki yang tadi
melempar Rangga masih tetap di tempatnya berlutut. Mata lelaki ini memancarkan
rasa puas dan lega karena berhasil meloloskan Rangga.
Ia
tidak tahu apakah Rangga, anaknya, bisa melewati derasnya sungai Brantas yang
sedang meluap. Namun, setidaknya, dia tidak mati di tangan jahat sosok di hadapannya,
Poeranto. Sosok yang selama ini dianggapnya sebagai guru. Sosok tua yang selalu
penuh welas asih kepada keluarganya.
Sosok
itu melihat dengan penuh murka kepada ayah Rangga. Di belakang ayah Rangga,
mayat-mayat bergelimpangan, buah tangannya malam ini.
Perlahan,
Poeranto bergerak menuju ayah Rangga.
“Kini,
tibalah waktumu menyusul mereka. Bersiaplah!” kata sosok itu. Ia mengangkat telapak
tangan kanannya ke sebelah telinganya. Dari telapak itu, tampak pendar berwarna
kebiruan, tanda bahwa energi murni telah dialirkan ke sana.
“Tunggu
sebentar. Sebelum pukulan Wojo itu mengenai kepalaku, tolong jelaskan satu hal.
Kenapa engkau tega membunuh kami semua? Anak cucumu sendiri, Ayah?” tanya ayah
Rangga. Tidak ada rasa gentar dalam kalimatnya, hanya penasaran kenapa Poeranto
tega membasmi keluarganya sendiri.
“Kamu
tidak akan pernah paham, Anakku,” desis Poeranto. Tanpa ragu, Poeranto meluncurkan
telapak tangannya ke arah wajah ayah Rangga. Hasilnya, kepala itu hancur. Hanya
menyisakan seonggok daging yang melekat di leher. Seperti belasan korban lain
yang ada di belakang ayah Rangga.
Setelah
memastikan semua penghuni rumah megah itu mati, Poeranto melesat pergi. Ia
berniat mengejar Rangga ke arah sungai mengalir. Ia ingin membunuh satu-satunya
keturunannya yang masih tersisa.
***
Sementara
itu, setelah meluncur belasan meter ke arah sungai, tubuh Rangga disambut derasnya
arus sungai Brantas. Hujan deras dari sore, membuat debit air sungai meningkat drastis.
Begitu juga dengan alirannya, menjadi berkali lipat lebih deras.
Bocah
berumur tujuh tahun itu sekuat tenaga mempertahankan posisi mulut dan hidungnya
agar berada di atas permukaan air. Walaupun sering gagal dan banyak air masuk
ke dalam mulutnya, tetapi sesekali ia masih sempat menghirup udara.
Rangga
juga berusaha untuk menggapai pinggiran sungai. Alih-alih berhasil, ia selalu
terpeleset saat mencoba meraih padas. Saat berhasil menggapai dahan pohon bambu
yang menjuntai, hasilnya tetap sama saja. Malah tangannya jadi penuh luka
karena tergores duri.
Pakaiannya
sesekali tersangkut batang bamboo atau batang pohon lain. Namun hal itu tidak
cukup kuat untuk memberikan kekuatan yang bisa menahannya dari terjangan arus.
Malah, pakaiannya menjadi compang-camping, karena sobek tersangkut dahan.
Akhirnya,
bocah itu pasrah mengikuti arus sungai. Kemana pun arus akan membawanya. Ia
hanya berusaha untuk tetap bisa bernapas di tengah derasnya aliran sungai.
***
Kegagalan Rangga menggapai pinggiran sungai membawa berkah baginya. Sehebat apa pun ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Poeranto, ia tetap tidak bisa menyamai derasnya arus sungai. Poeranto tidak berhasil menemukan sedikit pun jejak Rangga di pinggiran sungai. Satu-satunya jejak yang berhasil didapatkan hanyalah sobekan kecil kain berdarah yang tersangkut ranting bambu.
Lelaki
tua itu menghentikan pencariannya setelah lima kilometer. Ia berpikir bahwa,
jika anak sekecil itu tidak bisa menggapai pinggiran sungai setelah sejauh ini,
bisa dipastikan ia telah mati terseret arus.
Setelah
menghela napas panjang, Poeranto melesat ke arah timur. Tujuannya satu, alas
Purwo.
#30DWCJilid35
#Day1
#Squad5
#AwalMulaKejadian
No comments:
Post a Comment